Kipr@h Jelema LeuTik UnIK

Hayu urang jadi jelema sukses

Archive for the ‘Mengenal Oncom’


Foto Oncom Bandung

Oncom Bandung by Q-World.

Nukumaha Oncom teh?

Oncom nyaéta kadaharan tina kacang anu di-fermentasi-keun. Oncom mangrupakeun kadaharan has rahayat di Indonésia. Loba kamonésan tina oncom, diantarana oncom bisa jadi deungeun sangu ku jalan dipais, dibobotok, digoréng biasa, atawa dipasak jeung leunca. Oncom bisa oge dikokolakeun jadi kiripik oncom

Sacara garis badag, oncom aya dua rupa, nyaéta:

Sanajan bahan-bahan oncom mangrupakeun panyesaan, tapi tina segi gizi mah masih keneh padet ku gizi, nu matak kacida nyaahna lamun heug dipiceun atawa ukur dibikeun ka ingon-ingon teh.

Bahan baku sejenna nu diperlukeun nalika nyieun oncom nyaeta kapang. Kapang oncom bisa ngaluarkeun enzim lipase jeung protease nu aktip salila proses fermentasi tur nyekel peranan penting dina nguraikeun pati jadi gula, nguraikeun bahan-bahan pinding sél kacang, nguraikeun lemak, sarta ngawangun alkoholéster nu bauna sedep. saeutik tur mangrupa-rupa

Loba jalma nu kurang ngahargaan oncom tibatan hasil ngokolakeun kakacangan lianna, saperti tahu atawa témpé. Hal ieu teh alatan oncom dijieunna tina hampas tahu atawa suuk. Padahal, sabenerna mah oncom miboga ajén jeung kualitas gizi nu alus minangka hasil tina proses fermentasi. Lamun dibandingkeun, oncom bungkil suuk mibanda protein, lemak jeung padetan nu ngaleyur leuwih loba tibatan oncom hampas tahu.

Ku ayana proses fermentasi, struktur kimia bahan-bahannu tadina kompleks, bakal kaurai jadi senyawa-senyawa nu leuwih basajan sahingga leuwih gampang dicerna jeung dimangpaatkeun ku awakmanusa. Proses fermentasi ku kapang oge ngahasilkeun rasa nu dipikaresep ku konsumen.

Proses fermentasi ku kapang Neurospora sitophila jeung Rhizopus oligosporus geus kabuktian bisa nyegah efek flatulensi (kembung beuteung) sabab salila proses fermentasi, kapang bakal ngahasilkeun enzim alpha-galaktosidase nu bisa nguraikeun raffinosa jeung stakhiosa kadele nepi ka hambalan nu kacida handapna, nu alus keur nyegah dibentukna gas.

Nalika nyieun oncom, kaberesihan proses nyieunna diperlukeun keur nyegah mecenghulna mikroba-mikroba sejen, utamana kapang Apergillus flavus nu bisa mroduksi aflatoksin. Tapi, aflatoksin nu mangrupakeun racun, bisa diteken ku Neurospora sitophila jeung Rhizopus oligosporus. Aflaktosin ilahar mucunghul lamun bahan kakacangan mutuna goreng, ku kituna dina nyieun oncom diperlukeun mutu bahan nu hade.

sumber : Wapedia.mobi

Usaha yang Nyaris tidak Berlimbah

DIBANDINGKAN berbagai jenis makanan tradisional lain, produksi oncom
sebenarnya termasuk usaha yang serba bermanfaat. Pasalnya, usaha ini
nyaris tak menyisakan limbah karena berbagai sisa produksi dapat
digunakan kembali.

Walaupun oncom adalah makanan yang tak tahan disimpan lama karena
umumnya tak menggunakan bahan pengawet, banyak perajin oncom mengaku
jarang merugi dari usaha ini kendati produksinya ada yang tak laku.
Soalnya, belakangan ini pun muncul usaha pembuatan keripik oncom, yang
kebanyakan berbahan baku oncom yang tak terjual.
(more…)

Mari Membuat Oncom Sendiri

Keperluan:

1 kg bungkil kacang

1/2 kg ampas tahu

1/2 kg ampas tepung kanji (aci)

Ragi oncom

Cara membuat:

Ampas tahu dipres memakai karung terigu supaya airnya keluar. Ampas tepung kanji dan bungkil kacang direndam semalam di air supaya lunak, ceraikan (remas-remas). Taruh di tapisan supaya airnya menetes keluar, kemudian taruh di tetampah, campur dengan ampas tahu yang sudah diceraikan, aduk sampai rata, lalu kukus sampai matang betul kira-kira 1 jam atau lebih. (more…)

Oncom, Menutup Kekurangan Energi dan Protein

Meskipun bahannya dari limbah, namun nilai gizi oncom masih cukup baik. Ia bisa menjadi sumber energi dan protein yang bagi yang kekurangan.

Dalam suasana krisis moneter saat ini, harga protein hewani yang berasal dari daging, ikan, telur dan susu, menjadi semakin mahal sehingga kian tak terjangkau oleh masyarakat luas, khususnya yang berpendapatan pas-pasan.

Untuk mencegah meluasnya masalah kekurangan energi dan protein (KEP) di masyarakat, perlu digalakkan pemakaian sumber-sumber protein nabati. Penggunaan protein nabati dari kacang-kacangan (seperti tahu, tempe, dan oncom) telah terbukti ampuh untuk mengatasi masalah KEP tersebut.

Bila tempe merupakan bentuk pengolahan pangan warisan kreasi budaya nenek moyang masyarakat Indonesia suku Jawa, maka oncom merupakan bentuk pengolahan pangan warisan nenek moyang suku Sunda.

Begitu terkenalnya oncom di kalangan masyarakat Jawa Barat, sampai terdapat suatu jenis masakan jajanan yang disebut sebagai combro (kependekan dari oncom di jero atau di dalam). Disebut demikian, karena makanan jajanan yang dibuat dari singkong ini menggunakan oncom yang berbumbu pedas di dalamnya sebagai bahan pengisi. Selain itu oncom juga banyak digunakan dalam pembuatan pepes, sayur tumis campur leunca, sayur lodeh, keripik oncom, dan lain-lain.

Oncom merupakan produk yang dapat dibuat dengan cara memanfaatkan bahan limbah, seperti bungkil kacang tanah, ampas tahu, ampas singkong atau ampas kelapa, melalui proses fermentasi dengan menggunakan jasa mikroorganisme berupa kapang.

Kapang itu sendiri dapat dianggap sebagai pabrik penghasil zat-zat gizi, sebab proses fermentasi oleh kapang dapat meningkatkan nilai dan mutu gizi produk akhir, beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan bahan asalnya.

Dua Jenis Oncom

Saat ini dikenal dua jenis oncom, yaitu merah dan hitam. Perbedaan kedua jenis oncom tersebut terletak pada jenis kapang serta jenis bahan baku yang digunakan. Oncom merah dihasilkan oleh kapang Neurospora sitophila yang mempunyai strain jingga, merah, merah muda, dan warna peach.. Sedangkan oncom hitam dihasilkan oleh kapang Rhizopus oligosporus. Jadi, warna merah atau hitam pada oncom ditentukan oleh warna pigmen yang dihasilkan oleh kapang yang digunakan dalam proses fermentasi.

Oncom merah umumnya dibuat dari ampas tahu, yaitu kedelai yang telah diambil proteinnya dalam pembuatan tahu. Sedangkan oncom hitam umumnya dibuat dari bungkil kacang tanah yang kadangkala dicampur ampas (onggok) singkong atau tepung singkong, agar mempunyai tekstur yang lebih baik dan lebih lunak.

Ampas tahu merupakan residu dari pengolahan kedelai menjadi tahu. Bungkil kacang tanah adalah ampas yang berasal dari kacang tanah yang telah diambil minyaknya dengan proses pemerasan mekanis atau proses ekstraksi.

Walaupun kedua bahan tersebut berupa limbah, tetapi ditinjau dari segi gizi sesungguhnya kedua bahan tersebut merupakan bahan yang padat gizi, sehingga sangat disayangkan kalau dibuang atau dijadikan pakan ternak.
Bahan baku lainnya yang diperlukan dalam pembuatan oncom adalah kapang. Kapang oncom dapat mengeluarkan enzim lipase dan protease yang aktif selama proses fermentasi dan memegang peranan penting dalam penguraian pati menjadi gula, penguraian bahan-bahan dinding sel kacang, dan penguraian lemak, serta pembentukan sedikit alkohol dan berbagai ester yang berbau sedap dan harum.

Nilai & Mutu Gizi

Banyak orang yang kurang menghargai oncom dibandingkan hasil olahan kacang-kacangan yang lain, seperti tahu dan tempe. Pandangan negatif tersebut muncul karena oncom terbuat dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah.

Pandangan tersebut sangatlah keliru, karena sesungguhnya oncom memiliki nilai dan mutu gizi yang baik akibat proses fermentasi. Dari kedua tabel tersebut diketahui bahwa oncom bungkil kacang tanah memiliki protein, lemak dan padatan terlarut yang lebih tinggi dibandingkan oncom ampas tahu.

Hal lain yang perlu disempurnakan agar daya terima masyarakat meningkat terhadap oncom, adalah yang menyangkut penampilan, bentuk, serta warnanya. Untuk lebih meningkatkan daya terima oncom di masyarakat luas, perlu diperhatikan masalah sanitasi bahan baku, peralatan pengolah, dan lingkungan, serta higiene pekerja yang menangani proses pengolahan.

Dengan adanya proses fermentasi, maka struktur kimia bahan-bahan yang tadinya bersifat komplek, akan terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh. Proses fermentasi oleh kapang juga akan menghasilkan komponen flavor dan citarasa sehingga menjadi lebih disukai oleh konsumen.

Pernahkah Anda merasakan perut menjadi kembung dan selalu ingin buang gas setelah makan kedelai rebus? Gejala tersebut sangat umum terjadi, akibat terbentuknya gas oleh proses fermentasi oligosakarida yang terkandung di dalam kedelai yaitu raffinosa dan stakhiosa oleh aktivitas mikroba di dalam perut.

Mencegah Kembung

Proses fermentasi oleh kapang Neurospora sitophila dan Rhizopus oligosporus juga telah dibuktikan dapat mencegah terjadinya efek flatulensi (kembung perut). Selama proses fermentasi oncom, kapang akan menghasilkan enzim alpha-galaktosidase yang dapat menguraikan raffinosa dan stakhiosa kedelai sampai pada level yang sangat rendah, sehingga tidak berdampak pada terbentuknya gas.

Pada saat pembuatan oncom, sangat penting untuk memperhatikan masalah sanitasi dan higiene untuk mencegah timbulnya pencemaran dari mikroba-mikroba lain, terutama kapang Apergillus flavus yang mampu memproduksi racun aflatoksin. Akan tetapi kita tidak perlu terlalu khawatir dengan racun aflatoksin, karena kapang Neurospora sitophila dan Rhizopus oligosporus mampu berperan sebagai penekan produksi aflatoksin.

Penggunaan kapang Neurospora sitophila dalam proses fermentasi bungkil kacang tanah dapat mengurangi kandungan aflatoksin sebesar 50 persen. Sedangkan penggunaan kapang Rhizopus oligosporus dapat mengurangi aflatoksin bungkil sebesar 60 persen.
Aflatoksin dihasilkan oleh Aspergillus flavus yang tumbuh pada kacang-kacangan dan biji-bijian yang sudah jelek mutunya. Untuk mencegah terbentuknya aflatoksin, sangat dianjurkan menggunakan bahan baku yang baik mutunya. @ Prof.Dr.Ir. Made Astawan, MS., Dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, IPB

Sumber: Kompas, 3 Oktober 2002

Membuat Oncom

Untuk membuat oncom, sebenarnya tidak terlalu sulit. Bahannya, yaitu :
  • kacang tanah
  • ragi oncom
  • bambu
Kacang tanah adalah bahan baku utama produksi oncom. Bambu sebagai bahan sasag atau dasar/alas tempat meletakkan oncom, sedangkan minyak tanah/kayu bakar untuk proses penanakannya.

Proses pembuatan oncom pasireungit :

  • Kacang tanah yang telah dibersihkan sebersih mungkin dimasukkan ke kampa, sejenis mesin penggilingan kacang tanah.
  • Setelah itu, wujudnya menjadi bungkil mentah. Bungkil mentah tersebut lalu dicetak dengan mesin pres.
  • Kadar minyaknya dipisahkan dan menjadi bungkil pres. Bungkil pres berbentuk lempengan bulat seperti lingkaran CD. Beratnya lebih kurang 1 kg per lempeng.
  • Bungkil pres ini selanjutnya direndam dengan air yang sudah dimasak. Setelah 7 jam proses perendaman, bungkil pres yang sudah berubah jadi serbuk oncom tersebut dimasukkan ke dalam carangka.
  • Serbuk oncom itu pada sekira pukul 1.00 dini hari dikukus hingga masak, setelah itu dicetak berbentuk empat persegi panjang. Selama 12 jam potongan-potongan oncom tersebut ditutup atau diselimuti dengan karung setelah sebelumnya ditaburi ragi oncom secukupnya agar nantinya timbul jamur-jamur oncom. Setelah berjamur, potongan-potongan oncom diberi sasag yang terbuat dari bambu. Baru selanjutnya oncom siap dipasarkan.

Sumber : Endang Suhendar M.S./”Galura”

Mengenal Oncom

Oncom adalah makanan rakyat di Indonesia yang terdiri dari dua jenis utama: oncom merah dan oncom hitam. Oncom merah terbuat dari kapang oncom Neurospora sitophila sedangkan oncom hitam terbuat dari kapang tempe Rhizopus oligosporus.

Oncom merah umumnya dibuat dari ampas tahu, yaitu kedelai yang telah diambil proteinnya dalam pembuatan tahu. Sedangkan oncom hitam umumnya dibuat dari bungkil kacang tanah yang kadangkala dicampur ampas (onggok) singkong atau tepung singkong, agar mempunyai tekstur yang lebih baik dan lebih lunak.

Ampas tahu merupakan residu dari pengolahan kedelai menjadi tahu. Bungkil kacang tanah adalah ampas yang berasal dari kacang tanah yang telah diambil minyaknya dengan proses pemerasan mekanis atau proses ekstraksi.

Walaupun kedua bahan tersebut berupa limbah, tetapi ditinjau dari segi gizi sesungguhnya kedua bahan tersebut merupakan bahan yang padat gizi, sehingga sangat disayangkan kalau dibuang atau dijadikan pakan ternak.

Bahan baku lainnya yang diperlukan dalam pembuatan oncom adalah kapang. Kapang oncom dapat mengeluarkan enzim lipase dan protease yang aktif selama proses fermentasi dan memegang peranan penting dalam penguraian pati menjadi gula, penguraian bahan-bahan dinding sel kacang, dan penguraian lemak, serta pembentukan sedikit alkohol dan berbagai ester yang berbau sedap dan harum.

Nilai dan mutu gizi

kapang oncom

Banyak orang yang kurang menghargai oncom dibandingkan hasil olahan kacang-kacangan yang lain, seperti tahu dan tempe. Pandangan negatif tersebut muncul karena oncom terbuat dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah.

Pandangan tersebut sangatlah keliru, karena sesungguhnya oncom memiliki nilai dan mutu gizi yang baik akibat proses fermentasi. Dari kedua tabel tersebut diketahui bahwa oncom bungkil kacang tanah memiliki protein, lemak dan padatan terlarut yang lebih tinggi dibandingkan oncom ampas tahu.

Hal lain yang perlu disempurnakan agar daya terima masyarakat meningkat terhadap oncom, adalah yang menyangkut penampilan, bentuk, serta warnanya. Untuk lebih meningkatkan daya terima oncom di masyarakat luas, perlu diperhatikan masalah sanitasi bahan baku, peralatan pengolah, dan lingkungan, serta higiene pekerja yang menangani proses pengolahan.

Dengan adanya proses fermentasi, maka struktur kimia bahan-bahan yang tadinya bersifat komplek, akan terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh. Proses fermentasi oleh kapang juga akan menghasilkan komponen flavor dan citarasa sehingga menjadi lebih disukai oleh konsumen.

Kadang terjadi kembung dan ingin buang gas setelah memakan kacang kedelai rebus. Gejala tersebut sangat umum terjadi, akibat terbentuknya gas oleh proses fermentasi oligosakarida yang terkandung di dalam kedelai yaitu raffinosa dan stakhiosa oleh aktivitas mikroba di dalam perut.

Proses fermentasi oleh kapang oncom juga telah dibuktikan dapat mencegah terjadinya efek flatulensi (kembung perut). Selama proses fermentasi oncom, kapang akan menghasilkan enzim alpha-galaktosidase yang dapat menguraikan rafinosa dan stakhiosa kedelai sampai pada kandungan yang sangat rendah, sehingga tidak berdampak pada terbentuknya gas.

Pada saat pembuatan oncom, sangat penting untuk memperhatikan masalah sanitasi dan higiene untuk mencegah timbulnya pencemaran dari mikroba-mikroba lain, terutama kapang Apergillus flavus yang mampu memproduksi racun aflatoksin. Akan tetapi kapang oncom mampu pula berperan sebagai penekan produksi aflatoksin. Penggunaan kapang N. sitophila dalam proses fermentasi bungkil kacang tanah dapat mengurangi kandungan aflatoksin sebesar 50 persen, sedangkan penggunaan kapang Rh. oligosporus dapat mengurangi aflatoksin bungkil sebesar 60 persen. Aflatoksin dihasilkan pada kacang-kacangan dan biji-bijian yang sudah jelek mutunya. Untuk mencegah terbentuknya aflatoksin, sangat dianjurkan menggunakan bahan baku yang baik mutunya.